Media Al-Fikrah – MAHASISWA. Dua suku kata yang seharusnya bukan hanya identitas di KTM. tapi juga sebuah sikap. sejak hari pertama menginjak kampus, saya sadar satu hal: kuliah bukan sekedar untuk "AMAN". Kuliah adalah ruang paling bebas sekaligus paling berbahaya. Bebas karena kita boleh berfikir apa aja. Berbahaya karena jika kita tidak berfikir. Kita akan digerus zaman.
Ditengah kebisingan informasi dan apatisme. Saya memilih satu sikap : MENOLAK DIAM
1. Meneguhkan identitas:
saya bukan mesin IPK
Identitas saya ditempa dari nilai, mahasiswa baru sering dihadapkan pada pilihan "Kupu-kupu" kuliah pulang, atau hanyut ikut arus. tapi bagi saya, saya akan memilih jalur sendiri yakni jadi mahasiswa yang sadar.
Meneguhkan identitas artinya menjawab 3
pertanyaan paling dasar :
Ditengah kebisingan informasi dan apatisme. Saya memilih satu sikap : MENOLAK DIAM
1. Meneguhkan identitas:
saya bukan mesin IPK
Identitas saya ditempa dari nilai, mahasiswa baru sering dihadapkan pada pilihan "Kupu-kupu" kuliah pulang, atau hanyut ikut arus. tapi bagi saya, saya akan memilih jalur sendiri yakni jadi mahasiswa yang sadar.
Meneguhkan identitas artinya menjawab 3
pertanyaan paling dasar :
- Saya siapa?
- Saya berpihak kemana?
- Saya mau ngapain di kampus ini?
Dışınilah organisasi yang baru saya ikuti, Seperti PMII akan menjadi rumah, bukan karena Ikut Ikutan. tapi karena disana saya belajar bahwa mahasiswa harus punya 3 pilar TAKWA, INTELEKTUAL, dan PROFESIONAL.
Seperti yang kita ketahui, aktivisme tanpa adanya aturan akan menjadi keramaian. dari saya pribadi mengambil lensa dari Hubungan International dan Hukum dari HI saya melihat masalah secara global. jikalau dari Hukum saya belajar bahwasannya setiap perubahan harus memiliki dasar, dengan dua hal ini, Identitas saya sebagai seorang mahasiswa tidak kosong, saya bukan hanya "anak kuliah", "anak yang mau memahami sistem agar bisa mengubanya".
2. Merancang masa depan:
tidak menunggu DIJEMPUT
kalau dulu masa depan dirancang oleh orang tua dan guru, sekarang masa depan harus kita rebut sendiri, sebagai mahasiswa baru, saya tidak mau menunggu semester 7 untuk "baru sadar" dalam merancang masa depan.
Rancangan sederhana saya:
- Akademik: bukan mengejar IPK 4.00 demi VALIDASI. tapi menguasai ilmu agar punya senjata. Ekonomi untuk memahami ketimpaannya. Hukum untuk memahami Keadilan.
- Oraganisasi: kampus adalah Laboratorium, saya masuk organisasi bukan buat absen dan sertifikat, saya masuk untuk GAGAL, DIEVALUASI, dan BELAJAR MEMIMPIN, karena pemimpin masa depan lahir dari rapat yzng molor dan proposal yang direvisi 10x.
- Literasi & Jejaring: masa depan milik mereka yang punya data dan relasi, saya paksa diri untuk baca, nulis, diskusi, sekaligus bangun jaringan dengan orang-orang yang lebih gila dari saya berfikir.
Aktivisme bukan sekedar orasi
"STUDENT ARE AGENTS OF CHANGE"
sudah terlalu
BASI
kalau dipakai slogan dispanduk. Menurut saya aktifisme ada 3 hal:
⁓ Level Diri
Lawan malas, Lawan plagiarisme, Lawan apatisme. Perubahan dimulai saat kita berani matikan nontifikasi dan buka buku.
⁓ Level Kampus
Berani brsuara saat ada KEBIJAKAN YANG TIDAK ADIL, berani bikin ruang diskusi, berani mengkritik dengan data, bukan dengan emosi.
seperti hal nya yang terjadi di kampus UIN sa, mahasiswa turut andil dalam menolak atas buruknya TATA KELOLA, menurut saya pun begitu, kita harus menuntut:
- Tetapkan REKTOR DEFINITIF!
- Evaluasi total atas ketidakjelasan UKT!
- Bagikan JAS ALMAMATER yang bagi kami adalah suatu identitas kebanggaan!
- Benahi FASILITAS KAMPUS!
TURUN!!! Literasi hukum dan Literasi ekonomi masih rendah. Banyak orang disekitar kita yang jadi korban pinjol, KORBAN KETIDAKADILAN karena tidak tahu haknya. disinilah ilmu kita diuji. bikin kelas kecil, bikin konten edukasi, bikin pengabdian.
Aktivisme adalah konsisten melakukan hal benar saat tidak ada yang lihat.
Saya mahasiswa baru, Ilmu saya belum seberaba, tapi keberanian saya untuk tidak diam sudah saya putuskan sejak hari pertama.
Meneguhkan identitas agar tidak tersesat.
Merancang masa depan agar tidak tersetir.
Menggerakkan perubahan agar tidak menyesal.
Penulis: charisa tazkiyah ataufiq ( Mahasiswa Ekonomi Syari'ah 1A asal Bojonegoro)
Editor: Haikal Moh Multazam (Koordinator Media Al-Fikrah)
